PERAN SASTRA DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER BANGSA
Oleh : AYATI, S.Pd. *)
Dunia pendidikan selalu menjadi sorotan dalam upayanya membentuk pribadi yang berkarakter, karena dalam proses pembentukan karakter itu dunia pendidikan dianggap sebagai ujung tombak yang paling berhubungan sekali, khususnya para pendidik. Para pendidik mempunyai tanggung jawab dalam membentuk karakter anak didiknya, menyadari tujuan dari pendidikan secara luas bahwa pendidikan bertujuan membentuk manusia dewasa yang bertanggungjawab kepada dirinya, lingkungan di sekitarnya dan kepada Tuhan.
Respon masyarakat terhadap pendidikan karakter beragam. Kalangan pendidik pun memunculkan pendapatnya, bahwa perlu adanya pendidikan budi pekerti. Sedangkan agamawan memandang perlu penguatan pendidikan agama. Kemendiknas meresponnya dengan membentuk Tim Pengembang Pendidikan Karakter.
Guru bahasa dan sastra Indonesia ikut andil sebagai bagian dari ujung tombak pendidikan perlu memahami : pengertian pendidikan karakter, upaya menanamkan pendidikan karakter, relevansi pendidikan sastra dan pendidikan karakter, memberdayakan sastra dalam pembentukan karakter bangsa.
Arti Pendidikan Karakter
Karakter menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti sifat-sifat kejiwaan, ahlak atau budi pekerti. Karakter dapat diartikan sebagai tabiat yaitu perangai atau perbuatan yang selalu dilakukan atau kebiasaan. Suyanto (2009) mendefinisikan karakter sebagai cara berpikir dan berpriaku yang menjadi cirri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa maupun Negara. Pritchard (1988 : 467) mendefinisikan karakter sebagai sesuatu yang berkaitan dengan kebiasaan hidup individu yang bersifat menetap dan cenderung positif.
Karakter sebagai akhlak dapat bersifat positif atau negatif. Dalam pandangan agama terdapat akhlakul karimah (akhlak yang mulia) dan akhlakul mahmudah (akhlak tercela). Sedangkan menurut Zulhan (2010 : 2-5) karakter ada dua yaitu karakter positif (sehat) dan karakter buruk (tidak sehat).
Pusat Kurikulum Kementrian Pendidikan Nasional (2011 : 10) telah merumuskan materi pendidikan karakter yang mencakup aspek-aspek berikut : (1) religious, (2) jujur, (3) toleran, (4) disiplin, (5) kerja keras, (6) kreatif, (7) mandiri, (8) demokrasi, (9) rasa ingin tahu, (10) semangat kebangsaan, (11) cinta tabah air, (12) menghargai prestasi, (13) bersahabat dan komunikatif, (14) cinta damai, (15) gemar membaca, (16) peduli lingkungan, (17) peduli social dan tanggung jawab.
Sementara itu Suyanto (2009) berpendapat ada Sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu (1) cinta kepada Tuhan dan segenap ciptaan-Nya, (2) kemandirian dan tanggung jawab, (3) kejujuran, amanah dan diplomatis, (4) hormat dan santun, (5) dermawan, suka menolong dan gotong royong, (6) percaya diri dan pekerja keras, (7) kepemimpinan dan keadilan, (8) baik dan rendah hati, (9) toleransi kedamaian dan kesatuan.
Menanamkan Karakter
Penanaman pendidikan karakter yang utama adalah keteladanan.
Contoh keteladanan misalnya dilakukan oleh para nabi, terutama nabi Muhammad SAW, Allah berfirman, “Sungguh pada pribadi Nabi Muhammad terdapat teladan yang baik (uswatun hasanan)”. Ada empat karakter yang ditanamkan dari keteladanan ini, yaitu (1) sidiq ; selalu berkata benar, (2) amanah ; dapat dipercaya, (3) tablig ; selalu menyampaikan tidak pernah menyembunyikan, (4) fatonah ; cerdas. Salah satu karakter yang sejak kecil melekat pada pribadi Nabi Muhammad SAW adalah amanah (dapat dipercaya). Oleh karena masyarakat Arab memberikan gelar Al'amin (dapat dipercaya) jauh sebelum beliau menjadi nabi.
Penanaman pendidikan karakter di sekolah dapat dilakukan dengan berbagai strategi. Strategi yang dapat dilakukan antara lain : (1) memasukan pendidikan karakter ke dalam semua mata pelajaran di sekolah, (2) membuat slogan atau yel-yel yang dapat menumbuhkan kebiasaan semua masyarakat sekolah untuk bertingkah laku yang baik, (3) membiasakan prilaku yang positif di kalangan warga sekolah, (4) melakukan pemantauan secara kontinyu dan (5) member hadiah kepada warga sekolah yang selalu berkarakter baik.
Sastra dan Pendidikan Karakter
Sastra secara etimologis berasal dari kata sas dan tra. Akar kata sas- berarti mendidik, mengajar, memberikan instruksi, sedangkan akhiran –tra menunjukan pada alat. Jadi, sastra secara etimologis berarti alat untuk mendidik, alat untuk mengajar, dan alat untuk member petunjuk.
Banyak hal yang dapat diperoleh dari sastra. Tjokro Winoto (Haryadi, 1994) memperkenalkan istilah “pancaguna” untuk menjelaskan manfaat sastra lama, yaitu (1) mempertebal pendidikan agama dan budi pekerti, (2) meningkatkan rasa cinta tanah air, (3) memahami pengorbanan pahlawan bangsa, (4) menambahkan pengetahuan sejarah, (5) mawas diri dan menghibur. Haryadi (1994) mengemukakan Sembilan manfaat satra lama yaitu : (1) dapat berperan sebagai hiburan dan media pendidikan, (2) isinya dapat menumbuhkan rasa kecintaan, kebanggaan berbangsa, dan hormat pada leluhur, (3) isinya dapat memperluas wawasan tentang kepercayaan, adat istiadat dan peradaban bangsa, (4) pergelaraannya dapat menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan, (5) proses penciptaannya dapat menumbuhkan jiwa kreatif, resfontif dan dinamis, (6) sumber insfirasi bagi penciptaannya bentuk seni yang lain, (7) proses penciptaannya merupakan contoh tentang cara kerja yang tekun, professional dan rendah hati, (8) pergelarannya memberikan teladan kerjasama yang kompak dan harmonis, (9) pengaruh asing yang ada di dalamnya member gambaran tentang tata pergaulan dan pandangan hidup yang luas.
Bahwa sastra sangat relevan dengan pendidikan karakter karena karya sastra sarat dengan nilai-nilai pendidikan akhlak seperti dikehendaki dalam pendidikan karakter. Cerita rakyat “Bawang Merah dan Bawang Putih” mengandung nilai pendidikan tentang kemanusiaan. Cerita binatang “Pelanduk Jenaka” mengandung pendidikan tentang harga diri, sikap kritis dan protes social. Sementara itu, bentuk puisi seperti pepatah, pantun, dan bidal penuh dengan nilai pendidikan.
Sastra bagi Pembentukan Karakter
Sastra dapat dilihat dari berbagai aspek. Dari aspek isi karya sastra sebagai karya imajinatif yang dapat menggambarkan berbagai peristiwa yang terjadi pada suatu waktu, baik positif maupun negatif direspon oleh pengarang. Dalam proses penciptaannya pengarang akan melihat berbagai phenomena secara kritis kemudian mengungkapkannya dalam bentuk yang imajinatif.
Fungsi sastra yakni indah dan bermanfaat. Dari aspek gubahan, sastra disusun dalam bentuk menarik sehingga membuat orang senang membaca, mendengar, melihat dan menikmatinya. Dari aspek isi ternyata sastra sangat bermanfaat karena memiliki nilai-nilai pendidikan moral untuk menanamkan pendidikan karakter.
Pembelajaran sastra diarahkan pada tumbuhnya sikap apresiatif terhadap karya sastra, yakni sikap menghargai karya sastra. Dalam pembelajaran sastra ditanamkan tentang pengetahuan karya sastra (kognitif), ditumbuhkan kecintaan terhadap karya sastra (apektif) dan dilatih keterampilan menghasilkan karya sastra (psikomotorik). Kegiatan apresiatif sastra dilakukan melalu kegiatan : (1) reseptif seperti membaca dan mendengarkan karya sastra, menonton pementasan karya sastra, (2) produktif seperti mengarang, bercerita dan mementaskan karya sastra, (3) dokumentatif, misalnya mengumpulkan puisi, cerpen, kliping tentang informasi kegiatan sastra.
Pada kegiatan apresiasi sastra, pikiran, perasaan dan kemampuan motorik dilatih dan dikembangkan. Melalui kegiatan semacam itu pikiran menjadi kritis, perasaan menjadi peka dan halus, kemampuan motorik terlatih. Semua ini merupakan modal dasar yang sangat berarti dalam pengembangan pendidikan karakter.
Ketika seseorang mendengarkan, membaca atau menonton, pikiran dan perasaan diasah. Mereka harus memahami karya sastra secara kritis dan komperhensif, menangkap tema dan amanat yang terdapat di dalamnya dan memanfaatkannya. Bersamaan dengan kerja pikiran itu, kepekaan perasaan diasah sehingga condong kepada tokoh protagonist dengan karakternya yang baik dan menolak tokoh antagonis yang berkarakter jahat. Ketika seseorang menciptakan karya sastra, pikiran kritisnya dikembangkan, imajinasinya dituntun kea rah positif sebab ia sadar karya sastra harus indah dan bermanfaat. Ia akan memilih diksi, menyusunnya dalam bentuk kalimat, menggunakan gaya bahasa yang tepat dan sebagainya. Sementara itu dalam benak pengarang terbesit keinginan untuk menyampaikan amanat, menanamkan moral, baik melalui karakter tokoh, prilaku tokoh ataupun dialog.
Dokumentasi sebagai bagian dari kegiatan apresiasi sastra sangat besar sumbangannya terhadap pendidikan karakter. Tidak semua siswa ternyata mampu dan mau mmendokumentasikan karyanya dan mengkliping karya orang lain. Pembuatan dokumentasi dan kliping memerlukan ketekunan dan kecermatan. Mereka harus banyak membaca kemudian memilih bacaan yang pantas didokumentasikan dan dikliping. Hal inilah yang dapat menanamkan nilai karakter menghargai karya orang lain, cermat dalam menilai dan tekun dalam mencari wawasan.
*) Penulis : Guru SMPN 2 Cibeureum
Tidak ada komentar:
Posting Komentar